Cari Blog Ini

Sabtu, 23 Maret 2013


Mengenal Iklim Indonesia

Posted by kadarsah pada November 30, 2007
Iklim adalah rata-rata cuaca dalam periode yang panjang. Sedangkan cuaca merupakan keadaan atmosfer pada suatu saat. Ilmu yang mempelajari iklim adalah klimatologi. Meteorologi mempelajari proses fisis dan gejala cuaca yang terjadi didalam atmosfer terutama pada lapisan bawah (troposfer).
Klimatologi berasala dari bahasa Yunani klima dan logos. Klima berarti kemiringan bumi yang terfokus pada pengertian lintang tempat. Logos berarti ilmu.
Meteorologi berasal dari bahasa Yunani, meteoros dan logos. Meteoros berarti benda yang ada didalam udara.
Pembagian klimatologi berdasarkan cakupan daerah kajian:
1. Makroklimatologi : ukuran global
2. Mesoklimatologi : ukuran 10-100 km
3. Mikroklimatologi : ukuran kurang dari 100 m
Sistem iklim terdiri komponen:
1. atmosfer atau udara
2. litosfer atau batuan
3. hidrosfer terdiri dari cair atau air
4. kriosfer tediri dari es,salju dan gletser.
5. biosfer terdiri tumbuhan dan mahluk hidup.
Di permukaan bumi banyak sekali macam iklim, untuk menyederhanakan maka dilakukan upaya pengelompokan iklim.
Pengelompokan iklim berdasarkan pendekatan:
1. metode genetik : penentu faktor iklim yaitu pola sirkulasi udara, radiasi bersih dan fluks kelembaban.
2. metode generik ( empirik).: unsur iklim yang diamati atau efeknya terhadap gejala lain, contohnya manusia atau tumbuhan.
Mayoritas pengelompokan iklim menggunakan metode genetik sekitar 10 % sisanya berdasarkan metode empirik.
Metode Genetik digunakan oleh:
1. H.Flohn (1950) berdasarkan : sabuk angin global dan ciri curahan
2. Strahler (1969) berdasarkan: massa udara yang dominan dan ciri curahan.
3. Budyko (1956) berdasarkan: neraca energi ( indeks radiasi kekeringan).
Metode empirik:
1. Koppen (1900) berdasarkan hubungan iklim dengan tumbuhan dengan kriteria numerik digunakan untuk menentukan jenis dan unsur iklim.
2. Thornthwaite berdasarkan evapotranspirasi dan curah hujan.
3. Miller berdasarkan suhu dan curah hujan.
4. Schmidt & Ferguson (1951) berdasarkan curah hujan untuk menentukan jumlah bulan kering dan bulan basah.
5. Oldeman (1975) berdasarkan curah hujan yang difokuskan pada bidang pertanian
6. Mohr berdasarkan tingkat kelembaban dengan menyertakan pengaruh curah hujan
7. Miller berdasarkan suhu dan curah hujan
Jenis Iklim Flohn (1950):
Jenis Iklim
Karakteristik Curah Hujan
I
Katulistiwa Barat
Basah
II
Tropis
Hujan musim panas
III
Kering subtropics
Kering sepanjang tahun
IV
Hujan musim dingin
Hujan musim dingin
V
Ekstra tropis barat
Curahan sepanjang tahun
VI
Subpolar
Curahan sepanjang tahun tetapi terbatas
VIa
Sub Benua Boreal
Curahan musim panas terbatas, curahan musim dingin kurang
VII
Polar Tinggi
Curahan kurang sekali,salju turun awal musim dingin, curahan musim panas
Jenis Iklim Strahler (1969)
Jenis Iklim
Faktor penentu iklim
I
Iklim lintang rendah
Massa udara katulistiwa dan tropis
a
Khatulistiwa basah
b
Pantai angin pasat
c
Gurun dan stepa tropis
d
Gurun pantai barat
e
Kering-basah tropis
II
Iklim lintang menengah
Massa udara polar dan tropis
a
Subtropis lembab
b
Pantai barat laut
c
Mediterania
d
Gurun dan stepa lintang menengah
e
Benua lembab
III
Iklim lintang tinggi
Massa udara polar dan artik
Subartik benua
Subartik laut
tundra
IV
Iklim daratan tinggi
Ketinggian sebagai penentu iklim
Jenis Iklim Budyko (1956)
Jenis Iklim
Nilai indeks kekeringan
I
Gurun
> 3
II
Separuh gurun
2-3
III
Stepa
1-2
IV
Hutan
0.33-11
V
Tundra
<0.33
Jenis Iklim Koppen (Dr Wladimir Koppen ahli ilmu iklim dari Jerman, 1918)
Koppen membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok. Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
Lambang
Jenis Iklim
A
Iklim Hujan Tropis
Af
Iklim hutan hujan tropis
Aw
Iklim savanna
Am
Iklim monsoon tropis
B
Iklim kering
BSh
Iklim stepa kering
BSk
Iklim stepa sejuk
BWh
Iklim gurun terik
BWk
Iklim gurun sejuk
C
Iklim Hujan Sedang Panas
Cfa
Kelembaban sepanjang musim, musim panas terik
Cfb
Kelembaban sepanjang musim, musim panas panas
Cfc
Kelembaban sepanjang musim, musim panas pendek, sejuk
Cwa
Hujan musim panas,musim panas terik
Cwb
Hujan musim panas,musim panas panas
Csa
Hujan musim dingin,musim panas terik
Csb
Hujan musim dingin,musim panas panas
D
Iklim Hutan Salju Sejuk
Dfa
Kelembaban sepanjang musim, musim panas terik
Dfb
Kelembaban sepanjang musim, musim panas panas
Dfc
Kelembaban sepanjang musim, musim panas pendek, sejuk
Dfd
Kelembaban sepanjang musim, musim dingin dingin luar biasa
Dwa
Hujan musim panas,musim panas terik
Dwb
Hujan musim panas,musim panas panas
Dwc
Hujan musim dingin,musim panas terik
Dwd
Kelembaban sepanjang musim, musim dingin dingin luar biasa
E
Iklim Kutub
ET
Tundra
EF
Salju dan es abadi
Menurut Koppen di Indonesia terdapat tipe-tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D.
  • Af dan Am = terdapat di daerah Indonesia bagian barat, tengah, dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Utara.
  • Aw = terdapat di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara, Kepulauan Aru, dan Irian Jaya pantai selatan.
  • C = terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan.
  • D = terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
Kriteria utama iklim A,B,C,D,E
Jenis Iklim
Ciri-ciri iklim
A
Suhu rata-rata bulan terdingin minimal 18C, curah hujan tahunan > evapotranspirasi tahunan.
B
Evapotranspirasi potensial tahunan rata-rata > curahan tahunan rata-rata. Tidak ada kelebihan air.
C
Suhu rata-rata bulan terdingin -3 s.d 18C . Bulan terpanas > 10 C.
D
Suhu rata-rata bulan terdingin < 10 C, bulan terpanas >10 C.
E
Suhu rata-rata bulan terpanas < 10 C, untuk daerah tundra 0 s.d 10 C, untuk daerah salju abadi < 10C.
Kriteria tambahan Iklim Koppen
Jenis Iklim
Ciri-ciri iklim
f
Tidak ada musim kering,basah sepanjang tahun.
m
Monsoon,dengan musim kering pendek,dan sisanya hujan lebat sepanjang tahun.
w
Hujan musim panas
S
Kondisi kering pada musim panas
W
Kondisis kering pada musim dingin
Jenis Iklim
Ciri-ciri iklim
a
Musim panas terik, suhu rata-rata bulan terpanas > 22C
b
Musim panas yang panas, suhu rata-rata bulan terpanas <22C
c
Musim panas yang sejuk dan pendek, rata-rata kurang dari 4 bulan memiliki suhu > 10C
d
Musim dingin yang sangat dingin, suhu rata-rata bulan terdingin < -3C
h
Terik, suhu tahunan rata-rata > 18 C
k
Sejuk, suhu tahunan rata-rata < 18 C
Jenis Iklim Thornthwaite (1933)
Pembagian daerah berdasarkan suhu
Lambang
Ciri-ciri iklim
Karakteristik Tanaman
Indeks P-E
A
Basah
Hutan Hujan
>128
B
Lembap
Hutan
64-127
C
Kurang lembap
Padang rumput
32-63
D
Agak kering
Stepa
16-31
E
Kering
Gurun
<16
Lambang
Ciri-ciri iklim
Indeks T-E
A`
Tropis
>128
B`
Mesotermal
64-127
C`
Mikrotermal
32-63
D`
Taiga
16-31
E`
Tundra
<16
F`
Salju
—————————————
Contoh klasifikasi iklim:
BA`: iklim tropis lembab
BB` :iklim mesotermal lembap
CA`:iklim tropis kurang lembap
DA`:iklim tropis agak kering
DB`:iklim mesotermal agak kering
hhhhhhhh
Iklim Schmidt & Feguson
Menggunakan kriteria bulan sebagai berikut:
Bulan
Curah hujan
Basah
> 100 mm
Lembap
60-100 mm
Kering
< 60 mm
Dengan menggunakan persamaan:
Q = jumlah rata-rata bulan kering
Jumlah rata-rata bulan basah
Tahapan menghitung Q:
1. Menghitung jumlah bulan kering dan bulan basah tiap tahun
2. Menjumlahkan hasil no.1 dalm suatu periode (misal 30 tahun)
3. Menghitung nilai Q
Lambang Iklim
Nilai Q
A (Sangat Basah)
< 0.143
B (Basah)
0.144-0.333
C (Agak Basah)
0.334-0.600
D (Sedang)
0.601-1
E (Agak Kering)
1.001-1.670
F (Kering)
1.671-3
G (Sangat Kering)
3.001-7
H (Sangat Kering Sekali)
7.001
Jenis Iklim di Pesisir Pulau Jawa menggunakan klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson (1967-1976)
peta-iklim-jabar1.jpg
Jenis IklimOldeman
Bulan
Curah hujan
Basah
> 200 mm
Kering
< 100 mm

Lambang
Jumlah Bulan Basah Yang Berurutan
A
> 9
B
7-9
C
5-6
D
3-4
E
< 3
Lambang
Jumlah Bulan Basah Yang Berurutan
Jumlah Bulan Kering Yang Berurutan
A
> 9
-
B1
7-9
< 2
B2
7-9
2-4
C1
5-6
< 2
C2
5-6
2-4
C3
5-6
5-6
D1
3-4
<2
D2
3-4
2-4
D3
3-4
5-6
D4
3-4
>6
E1
<3
<2
E2
<3
2-4
E3
<3
5-6
E4
<3
>6
Jenis Iklim di Bandung menggunakan klasifikasi Iklim Oldeman (1967-1976)
oldemanfix.jpg
IklimMohr
Bulan
Curah hujan
Basah
> 100 mm
Lembap
60-100 mm
Kering
< 60 mm
Jenis Iklim Miller
A
Iklim Terik
Suhu rata-rata tahunan > 21.1C, tak ada bulan yang memiliki suhu < 18 C.
Jenis Iklim
Kriteria Curah Hujan
1
Iklim khatulistiwa
Hujan dengan maksimum ganda
1m
Iklim khatulistiwa
Hujan jenis monsun
2
Iklim laut topis
Tak menunjukan musim kering yang jelas
2m
Iklim laut tropis
Hujan jenis monsun
3
Iklim benua tropis
Hujan pada musim panas
3m
Iklim benua tropis
Hujan jenis monsun
B
Iklim Sedang Panas
Tak ada musim dingin, tak ada bulan dengan suhu< 6.1 C
Jenis Iklim
Kriteria Curah Hujan
1
Iklim mediterania
Hujan pada musim dingin
2
Iklim mediterania
Hujan merata
2m
Iklim mediterania
Hujan jenis monsun
C
Iklim Sedang Sejuk
Musim dingin lamanya 1-5 bulan dengan suhu rata-rata < 6.1 C
Jenis Iklim
Kriteria Curah Hujan
1
Iklim laut
Hujan merata atau maksimum pada musim dingin
2
Iklim benua
Hujan maksimum pada musim panas
2m
Iklim benua
Hujan jenis monsun
D
Iklim Dingin
Musim dingin lamanya 6 bulan dengan suhu rata-rata < 6.1 C

Jenis Iklim
Kriteria Curah Hujan
1
Iklim laut
Hujan merata atau maksimum pada musim dingin
2
Iklim benua
Hujan maksimum pada musim panas
2m
Iklim benua
Hujan jenis monsun
E
Iklim Artik
Tidak ada musim panas > 3 bulan dengan suhu rata-rata < 6.1 C
F
Iklim Gurun
Curahan rata-rata < 20 % suhu tahunan rata-rata
1
Iklim gurun terik
Tak ada musim dingin, tak ada bulan dengan suhu < 6.1 C
2
Iklim gurun lintang menengah
Terdapat beberapa bulan dengan suhu < 6.1 C
G
Iklim Pegunungan
Tidak ada musim panas > 3 bulan dengan suhu rata-rata < 6.1 C
Tipe Iklim Menurut Junghuhn
Menurut Junghuhn pembagian daerah iklim dapat dibedakan sebagai berikut
  1. Daerah panas/tropis
    Tinggi tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
  2. Daerah sedang
    Tinggi tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
  3. Daerah sejuk
    Tinggi tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.
  4. Daerah dingin
    Tinggi tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya.
Pembagian iklim menurut Junghuhn
Gambar di atas menunjukan pembagian iklim menurut Junghunn
Pembagian Iklim lainya berdasarkan:
  • Iklim Matahari
  • Iklim Fisis
Iklim Matahari :
1) Iklim Tropis
Iklim tropis terletak antara 0° – 231/2° LU/LS dan hampir 40 % dari permukaan bumi.
Ciri-ciri iklim tropis adalah sebagai berikut:
  • Suhu udara rata-rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20- 23°C. Bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mencapai 30°C.
  • Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di kwatulistiwa antara 1 – 5°C, sedangkan ampitudo hariannya lebih besar.
  • Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
  • Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia.
2)
Iklim Sub Tropis
Iklim sub tropis terletak antara 231/2° – 40°LU/LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang.
Ciri-ciri iklim sub tropis adalah sebagai berikut:
  • Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah peralihan dari daerah iklim tropis ke iklim sedang.
  • Terdapat empat musim, yaitu musim panas, dingin, gugur, dan semi. Tetapi musim dingin pada iklim ini tidak terlalu dingin. Begitu pula dengan musim panas tidak terlalu panas.
  • Suhu sepanjang tahun menyenangkan. Maksudnya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
  • Daerah sub tropis yang musim hujannya jatuh pada musim dingin dan musim panasnya kering disebut daerah iklim Mediterania, dan jika hujan jatuh pada musim panas dan musim dinginnya kering disebut daerah iklim Tiongkok.
3)
Iklim Sedang
Iklim sedang terletak antara 40°- 661/2° LU/LS. Ciri-ciri iklim sedang adalah sebagai berikut:
  • Banyak terdapat gerakan-gerakan udara siklonal, tekanan udara yang sering berubah-ubah, arah angin yang bertiup berubah-ubah tidak menentu, dan sering terjadi badai secara tiba-tiba.
  • Amplitudo suhu tahunan lebih besar dan amplitudo suhu harian lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat pada daerah iklim tropis.
4)
Iklim Dingin (Kutub)
Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim tundra dan iklim es.
Ciri-ciri iklim tundra adalah sebagai berikut:
  • Musim dingin berlangsung lama
  • Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.
  • Udaranya kering.
  • Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.
  • Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.
  • Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat mencairnya es di permukaan tanah.
  • Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.
  • Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.
Sedangkan ciri-ciri iklim es atau iklim kutub adalah sebagai berikut:
• Suhu terus-menerus rendah sekali sehingga terdapat salju abadi.
• Wilayahnya meliputi: kutub utara, yaitu Greenland (tanah hijau) dan Antartika di kutub selatan.
Iklim Fisis
Iklim fisis adalah berdasarkan fakta sesungguhnya di suatu wilayah muka bumi sebagai hasil pengaruh lingkungan alam yang terdapat di wilayah tersebut. Misalnya, pengaruh lautan, daratan yang luas, relief muka bumi, angin, dan curah hujan. Iklim
Fisis terdiri dari:
1)
Iklim laut (Maritim)
Iklim laut berada di daerah (1) tropis dan sub tropis; dan (2) daerah sedang. Keadaan iklim di kedua daerah tersebut sangat berbeda.
Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40°, adalah sebagai berikut:
a) Suhu rata-rata tahunan rendah;
b) Amplitudo suhu harian rendah/kecil;
c) Banyak awan, dan
d) Sering hujan lebat disertai badai.
Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplituda suhu harian dan tahunan kecil;
b) Banyak awan;
c) Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik;
d) Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.
2)
Iklim Darat (Kontinen)
Iklim darat dibedakan di daerah tropis dan sub tropis, dan di daerah sedang. Ciri-ciri iklim darat di daerah tropis dan sub tropis sampai lintang 40(, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian sangat besar sedang tahunannya kecil; dan
b) Curah hujan sedikit dengan waktu hujan sebentar disertai taufan.
Ciri iklim darat di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu tahunan besar;
b) Suhu rata-rata pada musim panas cukup tinggi dan pada musim dingin rendah; dan
c) Curah hujan sangat sedikit dan jatuh pada musim panas.
3)
Iklim Dataran Tinggi
Iklim ini terdapat di dataran tinggi dengan ciri-ciri, adalah sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian dan tahunan besar;
b) Udara kering,
c) Lengas (kelembaban udara) nisbi sangat rendah; dan
d) Jarang turun hujan.
4)
Iklim Gunung
Iklim gunung terdapat di dataran tinggi, seperti di Tibet dan Dekan. Ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu lebih kecil dibandingkan iklim dataran tinggi;
b) Terdapat di daerah sedang;
c) Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil;
d) Hujan banyak jatuh di lereng bagian depan dan sedikit di daerah bayangan hujan;
e) Kadang banyak turun salju.
5)
Iklim Musim (Muson)
Iklim ini terdapat di daerah yang dilalui iklim musim yang berganti setiap setengah tahun. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a) Setengah tahun bertiup angin laut yang basah dan menimbulkan hujan;
b) Setengah tahun berikutnya bertiup angin barat yang kering dan akan menimbulkan musim kemarau.
Gambar di bawah menunjukan perbandingan distribusi dan intensitas curah hujan klimatologi antara dua periode (1931-1960) dengan periode (1961-1990) dan terjadi perubahan yang besar hal ini juga menunjukan terjadi perubahan iklim di beberapa tempat tersebut.

Tenaga Pembentuk Muka Bumi, Tenaga Endogen
1. Tenaga endogen: tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga endogen meliputi: 
a) Tektonisme: tenaga yang berasal dari dalam bumi baik mendatar maupun vertikal yang menyebabkan perubahan muka bumi. Tenaga endogen dibedakan menjadi:
  • Epirogenesa: pengangkatan dan penu-runan benua yang relatif lambat pada areal yang sangat luas. Epirogenesa positif adalah turunnya permukaan bumi seolah-olah permukaan laut menjadi naik. Epirogenesa negatif adalah naiknya permukaan bumi seolah-olah permukaan laut menjadi turun.
  • Orogenesa: terbentuknya lipatan, patahan, dan rekahan yang relatif cepat pada areal yang sempit.
b) Vulkanisme: peristiwa naiknya magma dari perut bumi. Disebut intrusi magma bila naiknya magma masih berada di dalam lapisan kulit bumi, dan disebut ekstrusi magma bila naiknya magma sudah mencapai permukaan. 
Bentuk intrusi magma:
  • Batolit: batuan beku terbentuk di dapur magma.
  • Lakokit: magma menerobos lapisan kulit bumi dan mendesak lapisan atasnya, berbentuk cembung dan datar di bawahnya.
  • Sill: magma masuk di antara dua lapisan dan membeku membentuk lempeng memanjang.
  • Diatrema: magma yang membeku pada pipa/gang, berbentuk silinder memanjang dari dapur magma ke mulut kawah.
  • Gang (korok): magma yang memotong lapisan kulit bumi dengan bentuk pipa/lempeng setelah membeku.
  • Apolisa: cabang gang. Bentuk ekstrusi magma
  • Erupsi: letusan
  • 1) Erupsi eksplosif: keluarnya magma menimbulkan ledakan. 
    2) Erupsi efusif: magma yang keluar hanya meleleh. -  Erupsi berdasarkan bentuk lubang 
    1) Erupsi linear: terjadi pada lubang yang memanjang. 
    2) Erupsi sentral: magma keluar melalui lubang yang kecil. 
    3) Erupsi areal: membentuk kawah yang sangat luas.

SEJARAH PEMBENTUKAN BUMI



1. Pengertian Bumi
Bumi adalah sebuah planet yang bergerak mengelilingi matahari. Planet bumi dari waktu ke waktu mengalami perkembangan dan perubahan terus menerus tanpa henti. Perubahan dan perkembangan itu dikendalikan terutama oleh proses-proses endogenik dan eksogenik, serta seluruh perkegerakan benda langit. Bumi yang berbentuk bulat berputar mengitari porosnya dan berputar mengelilinggi matahari. Hal itu menyebabkan terjadinya perbedaan iklim, terjadinya arus air laut dari wilayah dengan iklim dingin (kutub) ke wilayah beriklim panas (tropis) dan perubahan arus udara. Terjadi perubahan cuaca serta perubahan suhu global dari waktu ke waktu.
2. Proses terjadinya bumi
Pembentukan bumi tidak terlepas dari proses pembentukan alam semesta, dimana bumi merupakan salah satu planet yang dihuni oleh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
a. Teori Nebula
Berkaitan dengan pembentukan bumi ini, Lapplace secara terus-menerus mengembangkan konsepsi dari Immanuel Kant (1724-1804). Menurut Lapplace asal mula bumi terbentuk oleh adanya kabut berupa gas yang saling mendekati satu sama lainnya. Pada saat mendekat terjadilah suatu pusaran pada inti kabut. Pusaran semakin lama semakin cepat dan kabut disekitarnya tersedot dan ikut berputar sehingga putaran kabut semakin lama semakin cepat dan bola kabut semakin besar. Dengan kecepatan pusaran yang sangat cepat, menimbulkan gesekan antara masa kabut yang mengakibatkan timbulnya panas. Suhu semakin tinggi sesuai dengan semakin cepatnya gesekan diantara masa kabut itu. Titik kulminasi suhu tersebutmenimbulkan kabut tersebut berpijar (nebula) yang berputar secara sentrifugal.
Pada kondisi perputaran yang maksimum, sebagian nebula tidak kuat untuk bertahan sehingga terlontardan terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Pecahan-pecahan nebula itu berputar sendiri-sendiri dengan kecepatan yang berbeda. Pada kondisi suhu maksimum terjadi reaksi inti (nuklir), dimana unsur ini mengalami pembentukan dari unsure sederhana menjadi unsure yang kompleks. Dengan menurunnya suhu, reaksi nuklir terhenti, maka terbentuklah susunan bumi serta planet dan tata surya lainnya yang kita lihat sekarang ini. Pada waktu itu bumi juga mengalami reaksi, sehingga bumi mengeluarkan sebagian dari bagiannya dalam keadaan panas dan lama-lama dingin, dari bagian bumi yang terlepas itu akan terbentuk lubang yang sekarang diduga sebagai Samudra Pasifik
b. Teori Pasang Surut Gas
Pada tahun 1917 sarjana Inggris, james Jeans (1877-1946) dan Herald Jeffries, menggunakan teori tentang terjadinya planet-planet termasuk juga bumi. Menurut hipotesis ini pada suatu saat sebuah bintang yang hamper sama besarnya yang hamper sama dengan matahari melintas di dekat matahari. Hal ini menimbulkan terjadinya pasang pada matahari. Pasang ini berbentuk cerutu yang lebih besar. Bentuk cerutu yang lebih besar ini kemudian bergerak mengelilingi matahari dan mengalami perpecahan menjadi sejumlah butir-butir yang kecil, sehingga akhirnya membentuk gumpalan-gumpalan sebesar planet-planet yang ada sekarang. Hal yang sama juga terjadi pada pembentukan satelit dan planet.
c. Teori Peledakan Bintang
Teori ini dikemukakan oleh ahli astronomi dari Inggris Fred Hoyle pada tahun 1956. Kemungkinan matahari memiliki kawan sebuah bintang (matahari juga bintang) dan pada mulanya berevolusi satu sama lain. Ada juga diantaranya yang memadat dan mungkin terjerat di dalam orbit keliling matahari. Banyak bintang yang meledak akan bebas di ruang angkasa. Teori ini didukung oleh ahli astronomi, karena banyak bintang ganda atau kembar telah diketahui ternyata memang ada.
d. Teori Big Bang
Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran yang dilakukannya tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
.
Pangaea
3. Teori-teori tentang perkembangan muka bumi
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:
1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
3. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.
4bac
Perubahan di bumi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca. Beberapa pendapat tentang teori perkembangan muka bumi adalah sebagai berikut:
a. Teori Kontraksi
Teori ini diformulasikan oleh James Dana di AS tahun 1847 dan Elie de Baumant di eropa tahun 1952. Secara ringkas mereka berpendapat bahwa kerak bumi mengalami pendinginan sebagai akibat konduksi panas. Dengan demikian permukaan bumi menjadi tidak rata. Bumi dianggap sama seperti buah apel yang apabila bagian dalamnya mengering maka kulitnya mengerut, tidak rata (keriput).
b. Teori Pergeseran Benua
Tahun 1915 Alfred Wegener mengemukakan teorinya yang sangat terkenal di kalangan pakar geologi sampai tahun 60-an. Wegener berpendapat bahwa dahulu mula-mula hanya ada satu benua yang disebutpangea. Kemudian pada permulaan mosoikum benua tersebut mulai bergeser perlahan-lahan kea rah ekuator dan barat, sampai terpecah dan mencapai posisi seperti yang ada sekarang ini. Teorinya ini diperkuat dengan keterangan-keterangan bahwa antara benua-benua misalnya antara Amerika Selatan dengan Afrika ada bukti kesamaan spesies litologi dan palaentologi pada periode Cretaceous di kedua daerah tersebut.
Adapun penyebab gerakan tersebut dikemukakan sebagai akibat dari rotasi bumi yang menghasilkan gaya sentrifugal, sehingga berakibat kecenderungan gerakan kearah ekuator. Selain itu juga adanya gerakan tarik menarik antara bumi dan bulan menghasilkan gerakan kearah barat seperti halnya pada gelombang pasang (bulan bergerak dari arah barat ke timur dalam pergerakannya mengorbit bumi).
c. Teori Konveksi
Teori ini mengemukakan bahwa pada aliran konveksi di dalam lapisan astenosfer yang agak kental, dimana pengaruhnya sampai ke kerak bumi yang ada diatasnya. Kemudian diperluas oleh pakar lainnya bahwa aliran konveksi ini merambat kedalam kerak bumi menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak. Gerakan aliran dari dalam menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak rata.
Salah seorang pengikut teori ini, Hary Hess dari Princenton University pada tahun 1962, mengemukakan hipotesanya tentang aliran konveksi yang sampai ke permukaan bumi di Mid Ocean Ridge. Di puncak Mid Ocean Ridge tersebut lava mengalir terus dari dalam kemudian tersebar kedua sisinya lalu membeku membentuk kerak bumi baru
d. Teori Pergeseran dasar laut
Ahli geologi dasar laut AS, Robert Diesz mengemukakan hipotesa Hess. Perkembangan penelitian topografi dasar laut membawa bukti-bukti baru tentang terjadinya pergeseran dasar laut dari arah punggungan dasar laut kedua sisinya. Penyelidikan umur sedimen dasar laut mendukung hipotesa tersebut dimana makin jauh dari pungggungan dasar laut makin tua umurnya. Berarti ada gerakan yang arahnya dari punggungan dasar laut. Beberapa contoh punggungan dasar laut tersebut adalah: Mid Ocean Ridge, East Pasifik Ridge, Antlantic-Indian Ridge, dan Pasifik-Antlantic Ridge.
4. Mendeskripsikan karakteristik perlapisan bumi
Bagian litosfer yang yang paling atas bagaikan kulit ari pada kulit kita dan merupakan lapisan kerak bumi yang tipis. Lapisan kerak bumi itu terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Kerak bumi yang tebalnya sekitar 40 km
2. Kerak dasar samudra yang tebalnya sekitar 10 km
Litosfer terpecah-pcah menjadi sekitar 12 lempeng. Dinamakan lempeng, karena bagian litosfer itu mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertical. Lempeng-lempeng itu masing-masing mempunyai gerak pergeseran mendatar. Akibat arah pergeseran yang tidak sama, terjadi tiga jenis batas pertemuan antara lempeng- lempeng itu, yaitu:
a. Daerah Dua Lempeng Saling Menjauh
Di daerah dua lempeng saling menjauh terdapat beberapa fenomena, seperti:
1. Perenganggan lempeng yang disertai pertumbukan kedua tepi lempeng tersebut
2. Pembentukan tanggul dasar samudra disepanjang tempat perenganggan lempeng. Terbentuknya tanggul diakibatkan proses vulkanisme yang bertumpuk sepanjang celah. Tanggul seperti itu terdapat di laut atlantik, memanjang dari kutub utara sampai mendekati kutub selatan. Celah ini menjadikan benua Amerika saling menjauh dengan benua Afrika dan Eropa.
Di Samudra Pasifik terdapat tanggul di bagian tenggara Samudra yang membujur ke utara sampai ke teluk Kalifornia. Di bagian selatan Samudra Hindia, tanggul seperti itu memanjang dari barat ke timur, mendorong lempeng Samudra Hindia atau lempeng Indonesia-Australia kea rah utara. Pergeseran lempeng mendorong anak BenuaIndia yang berasal dari dekat Antartika, bertabrakan dengan lempeng Benua Asia dan menyebabkan pembentukan Gunung Himalaya.
3. Aktivitas vulkanisme laut dalam menghasilkan lava basa berstruktur bantal dan hamparan leleran lava yang encer.
4. Aktivitas gempa di dasar laut dan disekitarnya
b. Daerah Pertemuan Dua Lempeng
Di daerah pertemuan dua lempeng terdapat beberapa fenomena, seperti:
1. Terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi dan ekstrusi
2. Merupakan daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam
3. Lempeng dasar samudra menujam ke bawah lempeng benua
4. Terbentuk palung laut di daerah tumbukan itu
5. Pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan
6. Penghancuran lempeng akibat pergesekan lempeng dan
7. Timbunan sedimen campuran yang dalam geologi dikenal dengan nama batuan bancuh atau melange
c. Daerah Dua Lempeng Saling Berpapasan
Di daerah seperti ini terdapat aktivitas vulkanisme yang lemah disertai gempa yang tidak kuat. Gejala pergeseran itu tampak pada tanggul dasar samudera yang tidak berkesinambungan dan terputus-putus. Akibat dari lempeng yang saling berpapasan adalah terbentuknya lipatan dan juga patahan. Pada lipatan bagian lembah yang turun, dinamakan sinklin dan puncak terangkat dinamakan antiklin. Sebuah patahan dicirikan oleh bidang pergeseran. Pergeseran di daerah patahan mungkin verikal, mendatar, mungkin juga miring tergantung pada arah tenaga penyebabnya. Tenaga patahan dapat berupa tarikan, artinya dua tenaga yang saling menjauh, atau mungkin juga berupa tekanan, artinya dua tenaga saling menekan.
[struct.jpg]
5. Teori Tektonik Lempeng dan Kaitannya dengan Persebaran Gunung Api dan Gempa Bumi
1. Gerakan lempeng
Gerakan lempeng-lempeng yang membentuk bumi menyebabkan terjadinya gempa dan aktivitasnya vulkanisme. Secara umum, gerakan lempeng dibedakan atas gerakan lempeng yang saling bertabrakan, saling menjauh, dan gerakan lempeng yang saling bergesekan.
2. Gejala vulkanisme di Indonesia dan pengarunya terhadap kehidupan penduduk
Gerakan lempeng-lempeng yang membentuk bumi menyebabkan terjadinya gempa dan aktivitas vulkanisme. Teuri tektonik lempeng dapat menjelaskan proses pembentuk gunung api, gejala perlipatan, gejala sesar, dan juga peristiwa terjadinya gempa (terutama gejala tektonik dan vulkanik).